<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778</id><updated>2011-07-28T13:30:20.382-07:00</updated><title type='text'>andibloggersejati(andi tharsia)</title><subtitle type='html'>merangkai kata lagi|!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-9034370026704116969</id><published>2010-03-23T20:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T20:54:25.115-07:00</updated><title type='text'>BLOG</title><content type='html'>kadang menulis blog menjadi kejemuan. kadang juga menjadi satu keharusan. aku tak tahu apakah blog menjadi media yang baik atau tidak . itu semua tergantung bagaimana kita memanfaatkan media. kebaikan dan keburukan itu ada di tangan kita. blog untuk dakwah, blog untuk menyalurkan hobi, memberi informasi bagi teman, atau bahkan blog yang mengarah pada pornografi, semua nya tergantung bagaimana kita memanfaatkan blog. menulis blog seperti menulis diary. ah, terlalu naif. sekarang blog sudah bergeser menjadi media untuk yang sudah ku sebutkan diatas. bahkan untuk memberi info tentang kesehatan, juga dari blog. blog memang lebih dari sekedar kata, kalimat atau paragraf yang kaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-9034370026704116969?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/9034370026704116969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=9034370026704116969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/9034370026704116969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/9034370026704116969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2010/03/blog.html' title='BLOG'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-8740956816947784989</id><published>2009-06-01T04:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T04:06:29.613-07:00</updated><title type='text'>ketua senat</title><content type='html'>jadi ketua senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttttttttttttttt..........!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-8740956816947784989?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/8740956816947784989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=8740956816947784989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8740956816947784989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8740956816947784989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/06/ketua-senat.html' title='ketua senat'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-3078736467271363428</id><published>2009-03-06T18:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T18:37:00.563-08:00</updated><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN FRAKTUR HUMERUS</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN FRAKTUR HUMERUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Fraktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Pernyataan ini sama yang diterangkan dalam buku Luckman and Sorensen’s Medical Surgical Nursing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Patah Tulang Tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam buku Kapita Selekta Kedokteran tahun 2000, diungkapkan bahwa patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatidakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c Patah Tulang Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus yang terbagi atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Fraktur Suprakondilar Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Fraktur Interkondiler Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Fraktur Batang Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Fraktur Kolum Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tipe Ekstensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tipe Fleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam posisi pronasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mansjoer, Arif, et al, 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d Platting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah salah satu bentuk dari fiksasi internal menggunakan plat yang terletidak sepanjang tulang dan berfungsi sebagai jembatan yang difiksasi dengan sekrup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tercapainya kestabilan dan perbaikan tulang seanatomis mungkin yang sangat penting bila ada cedera vaskuler, saraf, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Aliran darah ke tulang yang patah baik sehingga mempengaruhi proses penyembuhan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Klien tidak akan tirah baring lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Kekakuan dan oedema dapat dihilangkan karena bagian fraktur bisa segera digerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Fiksasi interna berarti suatu anestesi, pembedahan, dan jaringan parut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kemungkinan untuk infeksi jauh lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Osteoporosis bisa menyebabkan terjadinya fraktur sekunder atau berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anatomi Dan Fisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Struktur Tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang.Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 – 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang (Black,J.M,et al,1993 dan Ignatavicius, Donna. D,1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Tulang Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995). Tulang panjang terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis (Black, J.M, et al, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c Tulang Humerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kaput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Korpus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ujung Bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d Fungsi Tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tempat mlekatnya otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Melindungi organ penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Tempat pembuatan sel darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Tempat penyimpanan garam mineral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ignatavicius, Donna D, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kekerasan langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kekerasan tidak langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kekerasan akibat tarikan otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Oswari E, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Faktor Ekstrinsik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Faktor Intrinsik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Ignatavicius, Donna D, 1995 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Biologi penyembuhan tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Stadium Empat-Konsolidasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Stadium Lima-Remodelling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Black, J.M, et al, 1993 dan Apley, A.Graham,1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Komplikasi fraktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Komplikasi Awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Kerusakan Arteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Kompartement Syndrom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fat Embolism Syndrom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Avaskuler Nekrosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Shock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Komplikasi Dalam Waktu Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Delayed Union&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karenn\a penurunan supai darah ke tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Nonunion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Malunion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Black, J.M, et al, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Klasifikasi Fraktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Berdasarkan sifat fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Berdasarkan jumlah garis patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Apley, A. Graham, 1993, Handerson, M.A, 1992, Black, J.M, 1995, Ignatavicius, Donna D, 1995, Oswari, E,1993, Mansjoer, Arif, et al, 2000, Price, Sylvia A, 1995, dan Reksoprodjo, Soelarto, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dampak Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari anatomi dan patofisiologi diatas, masalah klien yang mungkin timbul terjadi merupakan respon terhadap klien terhadap enyakitnya. Akibat fraktur terrutama pada fraktur hunerus akan menimbulkan dampak baik terhadap klien sendiri maupun keada keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Terhadap Klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada klien fraktur ini terjadi perubahan pada bagian tubuhnya yang terkena trauma, peningkatan metabolisme karena digunakan untuk penyembuhan tulang, terjadi perubahan asupan nutrisi melebihi kebutuhan biasanya terutama kalsium dan zat besi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Psiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien akan merasakan cemas yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari fraktur, perubahan gaya hidup, kehilangan peran baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, dampak dari hospitalisasi rawat inap dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta tuakutnya terjadi kecacatan pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sosio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien akan kehilangan perannya dalam keluarga dan dalam masyarakat karena harus menjalani perawatan yang waktunya tidak akan sebentar dan juga perasaan akan ketidakmampuan dalam melakukan kegiatan seperti kebutuhannya sendiri seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien akan mengalami gangguan kebutuhan spiritual sesuai dengan keyakinannya baik dalam jumlah ataupun dalam beribadah yang diakibatkan karena rasa nyeri dan ketidakmampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Terhadap Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang timbul pada keluarga dengan salah satu anggota keluarganya terkena fraktur adalah timbulnya kecemasan akan keadaan klien, apakah nanti akan timbul kecacatan atau akan sembuh total. Koping yang tidak efektif bisa ditempuh keluarga, untuk itu peran perawat disini sangat vital dalam memberikan penjelasan terhadap keluarga. Selain tiu, keluarga harus bisa menanggung semua biaya perawatan dan operasi klien. Hal ini tentunya menambah beban bagi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah diatas timbul saat klien masuk rumah sakit, sedang masalah juga bisa timbul saat klien pulang dan tentunya keluarga harus bisa merawat, memenuhi kebutuhan klien. Hal ini tentunya menambah beban bagi keluarga dan bisa menimbulkan konflik dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Anamnesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Identitas Klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Keluhan Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ignatavicius, Donna D, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Riwayat Penyakit Sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Riwayat Penyakit Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Riwayat Psikososial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Pola Eliminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. (Keliat, Budi Anna, 1991)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Pola Tidur dan Istirahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Pola Aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Pola Hubungan dan Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Pola Sensori dan Kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Pola Reproduksi Seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Pola Penanggulangan Stress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien (Ignatavicius, Donna D, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Gambaran Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Sistem Integumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Leher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(d) Muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e) Mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(f) Telinga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(g) Hidung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(h) Mulut dan Faring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(i) Thoraks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(j) Paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Inspeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Palpasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Perkusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Auskultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(k) Jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Inspeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tampak iktus jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Palpasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadi meningkat, iktus tidak teraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Auskultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(l) Abdomen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Inspeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Palpasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Perkusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Auskultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(m) Inguinal-Genetalia-Anus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Keadaan Lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Look (inspeksi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Cape au lait spot (birth mark).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Fistulae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Feel (palpasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dicatat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau distal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Move (pergeraka terutama lingkup gerak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Reksoprodjo, Soelarto, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pemeriksaan Radiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Bayangan jaringan lunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Pemeriksaan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ignatavicius, Donna D, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Analisa Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianaisa untuk menemukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya dibagi menjadi dua data yaitu, data sujektif dan data objektif, dan kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik aktual maupun potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perencanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apley, A. Graham , Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Widya Medika, Jakarta, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black, J.M, et al, Luckman and Sorensen’s Medikal Nursing : A Nursing Process Approach, 4 th Edition, W.B. Saunder Company, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpenito, Lynda Juall, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dudley, Hugh AF, Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi II, FKUGM, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henderson, M.A, Ilmu Bedah untuk Perawat, Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudak and Gallo, Keperawatan Kritis, Volume I EGC, Jakarta, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignatavicius, Donna D, Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach, W.B. Saunder Company, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliat, Budi Anna, Proses Perawatan, EGC, Jakarta, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Edisi 3 EGC, Jakarta, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansjoer, Arif, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius FKUI, Jakarta, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oswari, E, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Gramedia, Jakarta 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reksoprodjo, Soelarto, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI/RSCM, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tucker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien, EGC, Jakarta, 1998.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-3078736467271363428?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/3078736467271363428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=3078736467271363428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/3078736467271363428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/3078736467271363428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-dengan-fraktur.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN FRAKTUR HUMERUS'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-2958320741457180590</id><published>2009-02-28T02:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T02:13:17.183-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA BERENCANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keluarga berencana peran perawat adalah membantu pasangan untuk memilih metoda kontrasepsi yang tepat untuk digunakan sesuai dengan kondisi, kecendrungan, sosial budaya dan kepercayaan yang dianut oleh pasangan tersebiut, oleh karena itu proses keperawatan lebih diarahkan kepada membantu pasangan memilih metode kontrasepsi itu sendiri.&lt;br /&gt;Kegagalan penggunaan metode kontrasespsi terjadi disebabkan karena kurangnya pengetahuan wanita tersebut terhadap alat kontrasespsi itu sendiri sehingga memberikan pengaruh terhadap kondisi fisiologis, psikologis, kehidupan sosila dan budaya terhadap kehamilan tersebut.. maka disinilah letak peran perawat untuk memberikan pengetahuan yang tepat, sehingga hal diatas tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;Karena masalah kontrasepsi merupakan suatu hal yang sensitif bagi wanita, maka dalam mengkaji hal ini perawat harus sangat memperhatikan privasi klien. Rendahkan suara ketika mengkaji untuk menigkatkan rasa nyaman klien dan pertahankan rasa percaya diri yang tinggi klien.&lt;br /&gt;Selain pengkajian umum( Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat obstetri, PF), pengkajian khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai edukator dalam pemilihan metode kontrasepsi yang tepat adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengetahuan klien tentang macam-macam metoda kontrasepsi&lt;br /&gt;Pengkajian ini dilakukan dengan menanyakan kapan wanita tersebut berencana untuk memiliki anak. Kemudian tanyakan metoda apa yang sedang direncanakan akan dipakai oleh klien. Bila klien menyatakan satu jenismetoda perawat dapat menanyakan alas an penggunaan metoda tersebut.pertanyaan-pertanyaan ini akan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi klien terkait dengan kontrasepsi yang digunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengetahuan tentang teknik penggunaan metoda kontrasepsi&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan perannya sebagai educator perawat harus dapaat menetukan tingkat pengetahuan klien tentang teknik penggunaan kontrasepsi. Misalnya tanyakan tentang bagaimana klien tersebut memakai dafragma, kapan dan dimana spermisida dioleskan atau berapa kali dalam sehari klien tersebut harus mengkonsumsi pil KBm dengan menggali tingkat pengetahuan klien ni perawat dapat menentukan bila ada kesalahan persepsi dalam penggunaan yang akan menyebabkan tidak efektifnya alat kontrasepsi yang dipakai dan akan menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi klien terhadap metoda kontrasepsi yang sedanga dipakai&lt;br /&gt;Dalam mengkaji kenyamanan klien, dengarkan keluhan-keluhan klien terhadap efek samping dari kontrasepsi yang digunakannya. Dengarkan juga pernyataan klien tentang kenyamanannya menggunakan metoda kontrasepsi bulanan seperti suntik hormone dari pada pil keluarga berencana yang harus di konsumsi setiap hari. Keefektifan suatu metoda meningkat seiring dengan peningkatan kenyamanan klien dalam menggunakan metoda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor pendukung penggunaan metode yang tepat&lt;br /&gt;Jika klien berencana untuk mengganti metoda kontrasepsi diskusikan tentang pilihan-pilihan yang cocok untuk digunakan. Kaji factor-faktor yang dapat membantu pemilihan metode terbaik seperti riwayat kesehatan dahulu klien yang merupakan kontraindikasi dari metoda kontrasepsi, riwayat obstetric, budaya dan kepercayaan serta keinginan untuk mencegah kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kontraindikasi penggunaan metoda kontrasepsi yang berkaitan dengan riwayat kesehatan adalah:&lt;br /&gt;a. Kontrasepsi oral&lt;br /&gt;1. Pil keluarga berencana terpadu&lt;br /&gt;Riwayat TBC, kejang, kanker payudara, benjolan payu dara, telat haid, hamil, pendarahan abnormal, hepatitis, penyakit jantung, tromboplebitis.&lt;br /&gt;Untuk wanita perokok, usia lebih dari 35th, pengidap DM, epilepsy, dan penderita hipertensi tidak dianjurkan menggunakan pil keluarga berencana.&lt;br /&gt;2. Mini Pil&lt;br /&gt;Mini pil ini sebaiknya tidak digunakan pada wanita yang harus menghindari segala jenis metoda hormonal, atau yang mejalani pengobatan kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kontrasepsi Hormonal&lt;br /&gt;1. Hormone Implant&lt;br /&gt;Kanker/benjolan keras di payudara, terlambat haid, hamil, perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya, penyakit jantung dan keinginan untuk hamil kurang dari lima tahun.&lt;br /&gt;2. Hormone Injeksi&lt;br /&gt;Suntikan terpadu tidak boleh diberikan pada wanita dalam masa menyusui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kontrasepsi Mekanik&lt;br /&gt;1. Diafragma dan kap servik&lt;br /&gt;Diafragma dan kap servik tidak dipakai pada wanita dengan riwayat alergi lateks dan riwayat toksik shock syndrome.&lt;br /&gt;2. IUD&lt;br /&gt;Hamil atau kemungkinan hamil, resiko itnggi terkena penyajit yang menular lewat hubungan seks, riwayat infeksi alat reproduksi, infeksi sesudah persalinan/ aborsi, kehamilan ektopik, metroragia dismenorhea, anemia dan belum pernah hamil, mola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kontrasepsi Mantap&lt;br /&gt;Kontrasepsi ini tidak ada kontraindikasinya, karena sifatnya permanen. Digunakan bagi pasangan yang sudah tidak ingin atau sudah tidak memungkinkan untuk mempunyai anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Data&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan penyebab tersering dari gangguan fisik, psikologis dan social dalam kaitannya dengan kehamilan yang tidak direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa yang mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul yaitu:&lt;br /&gt;1. Resiko konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi&lt;br /&gt;2. Rasa takut b.d efek samping kontrasepsi&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan metoda kontrasepsi&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil&lt;br /&gt;5. Nyeri b.d pemulihan pascaoperasi sterilisasi&lt;br /&gt;6. Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan membran mukosa akibat operasi, pemasangan spiral, hormone implant&lt;br /&gt;7. Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda kontrasepsi yang dipilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Intervensi&lt;br /&gt;Diagnosa : Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Setelah dilakukan intervensi, pasangan akan :&lt;br /&gt;1. Menjabarkan dengan benar tentang cara penggunaan metoda kontrasepsi yang dipilih dan pemecahan masalahnya.&lt;br /&gt;2. Dapat menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari metoda kontrasepsi yang dipilih.&lt;br /&gt;3. Melaporkan adanya kepuasan terhadap metoda kontrasepsi yang dipilih.&lt;br /&gt;4. Menggambarkan metoda lain yang dapat dipakai dan memilih salah satu dari metoda tersebut bila pasangan inggin mengganti metod kontrasepsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-2958320741457180590?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/2958320741457180590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=2958320741457180590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/2958320741457180590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/2958320741457180590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan-pada-keluarga.html' title=''/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-804445431745535337</id><published>2009-02-09T19:35:00.001-08:00</published><updated>2009-02-09T19:35:54.870-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Senin, 2009 Februari 09&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THYPOID&lt;br /&gt;12 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.&lt;br /&gt;2. Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa tunas typhoid 10 – 14 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Minggu I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Minggu II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Komplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Komplikasi intestinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Perdarahan usus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Perporasi usus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ilius paralitik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Komplikasi extra intestinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.&lt;br /&gt;6. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;a. Perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.&lt;br /&gt;b. Diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.&lt;br /&gt;c. Obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Klorampenikol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tiampenikol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kotrimoxazol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Amoxilin dan ampicillin&lt;br /&gt;7. Pencegahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan penunjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemeriksaan leukosit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Biakan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Teknik pemeriksaan Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Vaksinasi di masa lampau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Uji Widal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Faktor yang berhubungan dengan klien :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Faktor-faktor Teknis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tumbuh kembang pada anak usia 6 – 12 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.&lt;br /&gt;a. Motorik kasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Loncat tali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Badminton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Memukul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan keleluasaan.&lt;br /&gt;b. Motorik halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.&lt;br /&gt;c. Kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang&lt;br /&gt;d. Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan&lt;br /&gt;10. Dampak hospitalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab anak stress meliputi ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Psikososial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Fisiologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lingkungan asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan sehari-hari berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pemberian obat kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Selalu ingin tahu alasan tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Berusaha independen dan produktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-804445431745535337?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/804445431745535337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=804445431745535337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/804445431745535337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/804445431745535337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/02/senin-2009-februari-09-asuhan.html' title=''/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-1551962239522147461</id><published>2009-02-08T19:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:50:16.446-08:00</updated><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM</title><content type='html'>A. KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Intrakranial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi : Bakteri, virus, parasit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli – Opitz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ekstra kranial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na dan K)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Idiopatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)&lt;br /&gt;b. Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.&lt;br /&gt;c. Manifestasi klinik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan &amp; 4 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak &gt; 4 kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.&lt;br /&gt;3. Klasifikasi kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kejang Tonik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kejang Klonik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kejang Mioklonik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Diagnosa banding kejang pada anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar, apnea dan mioklonus nokturnal benigna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Gemetar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar merupakan bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan terutama bagi yang belum berpengalaman. Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia dengan hiperiritabilitas neuromuskular, bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR. Gemetar adalah gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo teratur dan sama, kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Apnea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti napas 3-6 detik dan sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Berhentinya pernafasan tidak disertai dengan perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit. Bentuk pernafasan ini disebut pernafasan di batang otak. Serangan apnea selama 10 – 15 detik terdapat pada hampir semua bagi prematur, kadang-kadang pada bayi cukup bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak. Pada keadaan ini USG perlu segera dilakukan. Serangan Apnea yang termasuk gejala kejang adalah apabila disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain dan tidak disertai bradikardia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mioklonus Nokturnal Benigna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari persendian tangan dan siku yang berulang. Apabila serangan tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik. Mioklonik nokturnal benigna ini dapat dibedakan dengan kejang dan gemetar karena timbulnya selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi dan pemeriksaan EEG normal. Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang merupakan tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan Umum terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Usahakan suhu tetap stabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 – 4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 – 80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca – glukosa hendaknya disertai dengan monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy infant dapat muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah.&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan fisik dan laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik, pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok – kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan analisis gas darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 % diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang pasti yaitu mencakup :&lt;br /&gt;a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic&lt;br /&gt;b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella, citomegalovirus dan virus herpes.&lt;br /&gt;c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku&lt;br /&gt;d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, dan vertikular&lt;br /&gt;e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi dan kelainan bawaan otak&lt;br /&gt;e) Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif dengan ubun – ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar.&lt;br /&gt;7. Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Ubun-ubun anterior tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Physiologis dapat mengontrol spinkter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Motorik kasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Berlari dengan tidak mantap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menarik dan mendorong mainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Melompat ditempat dengan kedua kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Dapat duduk sendiri ditempat duduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Motorik halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melepaskan dan meraih dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menggambar dengan membuat tiruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Vokal atau suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengatakan 10 kata atau lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sosialisasi atau kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Meniru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menggunakan sendok dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menggunakan sarung tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Watak pemarah mungkin lebih jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Mulai sadar dengan barang miliknya&lt;br /&gt;8. Dampak hospitalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Rasa takut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Memandang penyakit dan hospitalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ansietas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Tidak berdaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi pengobatan atau perawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Protes dan Ansietas karena restrain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Gangguan citra diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sedih dengan perubahan citra diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot. Gerakan involunter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan, peka rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Riwayat jatuh / trauma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi&lt;br /&gt;3. INTERVENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cidera / trauma tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum, sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi klien dari trauma atau kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas kejang tidak berulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien. Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan mobilisasi fisik teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan keluarga meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. EVALUASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cidera / trauma tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aktivitas kejang tidak berulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pengetahuan keluarga meningkat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-1551962239522147461?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/1551962239522147461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=1551962239522147461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/1551962239522147461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/1551962239522147461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-1715459082469841477</id><published>2009-02-01T21:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T21:46:26.332-08:00</updated><title type='text'>diare anak</title><content type='html'>DIARE&lt;br /&gt;DEFINISI&lt;br /&gt;Diare adalah buang air besar (defekasi)  dengan jumlah yinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;1. Faktor infeksi : Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).&lt;br /&gt;2. Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).&lt;br /&gt;3. Faktor malabsorbsi : Karbihidrat, lemak,  protein.&lt;br /&gt;4. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang.&lt;br /&gt;5. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;faktor infeksi   F malabsorbsi  F makanan  F. Psikologi&lt;br /&gt;   KH,Lemak,Protein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk dan ber  meningk. Tek osmo toksin tak dapat    cemas&lt;br /&gt;kembang dlm              tik       diserap  &lt;br /&gt;  usus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipersekresi air pergeseran air dan             hiperperistaltik&lt;br /&gt;dan elektrolit   elektrolit ke rongga &lt;br /&gt;(    isi rongga usus)           usus  menurunya kesempatan usus&lt;br /&gt;      menyerap makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    D I A R E&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frek. BAB meningkat               distensi abdomen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan cairan &amp; elekt   integritas kulit         &lt;br /&gt;berlebihan            perianal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gg. kes. cairan &amp; elekt  As. Metabl     mual, muntah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko hipovolemi syok    sesak     nafsu makan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Gang. Oksigensi   BB menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;        Gangg. Tumbang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENGKAJIAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Identitas&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi  usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .&lt;br /&gt;2. Keluhan Utama&lt;br /&gt;BAB lebih dari 3 x&lt;br /&gt;3. Riwayat Penyakit Sekarang&lt;br /&gt;BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).&lt;br /&gt;4. Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak. &lt;br /&gt;5. Riwayat Nutrisi&lt;br /&gt;Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan, &lt;br /&gt;6. Riwayat Kesehatan Keluarga&lt;br /&gt;Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Riwayat Kesehatan Lingkungan&lt;br /&gt;Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.&lt;br /&gt;8. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan&lt;br /&gt;a. Pertumbuhan&lt;br /&gt;o Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.&lt;br /&gt;o Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.&lt;br /&gt;o Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah&lt;br /&gt;o Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.&lt;br /&gt;b. Perkembangan&lt;br /&gt;o Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.&lt;br /&gt;Fase anal : &lt;br /&gt;Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).&lt;br /&gt;o Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.&lt;br /&gt;Autonomy vs Shame and doundt&lt;br /&gt;Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.&lt;br /&gt;o Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :&lt;br /&gt;1. berdiri  dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK)&lt;br /&gt;2. Meniru membuat garis lurus (GH)&lt;br /&gt;3. Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK)&lt;br /&gt;4. Melepasa pakaian sendiri (BM)&lt;br /&gt;9. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;a. pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,&lt;br /&gt;b. keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.&lt;br /&gt;c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih&lt;br /&gt;d. Mata : cekung, kering, sangat cekung&lt;br /&gt;e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat &gt; 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum&lt;br /&gt;f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat &gt; 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)&lt;br /&gt;g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat &gt; 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .&lt;br /&gt;h.  Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun &gt; 2 dt, suhu meningkat &gt; 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang &gt; 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.&lt;br /&gt;i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.&lt;br /&gt;j. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.&lt;br /&gt;10. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1) Laboratorium :&lt;br /&gt;• feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida&lt;br /&gt;• Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi&lt;br /&gt;• AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )&lt;br /&gt;• Faal ginjal : UC meningkat (GGA)&lt;br /&gt;2) Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN DIARE&lt;br /&gt;Rehidrasi&lt;br /&gt;1. jenis cairan &lt;br /&gt;1) Cara rehidrasi oral &lt;br /&gt;o Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti orali, pedyalit setiap kali diare.&lt;br /&gt;o Formula sederhana ( NaCl dan sukrosa)&lt;br /&gt;2) Cara parenteral&lt;br /&gt;o Cairan I  : RL dan NS&lt;br /&gt;o Cairan II : D5  ¼ salin,nabic. KCL&lt;br /&gt;      D5 : RL = 4 : 1  + KCL&lt;br /&gt;      D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL &lt;br /&gt;o HSD (half strengh darrow) D ½  2,5 NS cairan khusus pada diare usia &gt; 3 bulan.&lt;br /&gt;2. Jalan pemberian &lt;br /&gt;1) Oral  (dehidrasi sedang, anak mau minum, kesadaran baik)&lt;br /&gt;2) Intra gastric ( bila anak tak mau minum,makan, kesadran menurun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jumlah Cairan ; tergantung pada :&lt;br /&gt;1) Defisit ( derajat dehidrasi)&lt;br /&gt;2) Kehilangan sesaat (concurrent less)&lt;br /&gt;3) Rumatan (maintenance).&lt;br /&gt;4. Jadwal / kecepatan cairan &lt;br /&gt;1) Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :&lt;br /&gt;o BB (kg) x 50 cc&lt;br /&gt;o BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls.&lt;br /&gt;2) Terapi standar pada anak dengan diare sedang :&lt;br /&gt;+ 50 cc/kg/3 jam  atau 5 tetes/kg/mnt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi &lt;br /&gt;1. obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg&lt;br /&gt;klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari&lt;br /&gt;2. onat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide&lt;br /&gt;3. antibiotik :  bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dietetik&lt;br /&gt;a. Umur &gt; 1 tahun dengan BB&gt;7 kg, makanan  padat / makanan cair atau susu&lt;br /&gt;b. Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat diberi elemen atau semi elemental formula.&lt;br /&gt;Supportif &lt;br /&gt;Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang&lt;br /&gt;2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.&lt;br /&gt;3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare&lt;br /&gt;4. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.&lt;br /&gt;5. Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.&lt;br /&gt;6. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare &lt;br /&gt;Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal&lt;br /&gt;Kriteria hasil : &lt;br /&gt;o Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50  c, RR : &lt; 40 x/mnt )&lt;br /&gt;o Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.&lt;br /&gt;o Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit&lt;br /&gt;2) Pantau intake dan output&lt;br /&gt;R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.&lt;br /&gt;3) Timbang berat badan setiap hari&lt;br /&gt;R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt&lt;br /&gt;4) Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr&lt;br /&gt;R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral&lt;br /&gt;5) Kolaborasi :&lt;br /&gt;- Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)&lt;br /&gt;R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).&lt;br /&gt;- Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur&lt;br /&gt;R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.&lt;br /&gt;- Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)&lt;br /&gt;R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put&lt;br /&gt;Tujuan        : setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria        : - Nafsu makan meningkat&lt;br /&gt;- BB meningkat atau normal sesuai umur&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)&lt;br /&gt;R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.&lt;br /&gt;2) Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat&lt;br /&gt;R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.&lt;br /&gt;3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan&lt;br /&gt;R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan &lt;br /&gt;4) Monitor  intake dan out put dalam 24 jam&lt;br /&gt;R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.&lt;br /&gt;5) Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :&lt;br /&gt;a. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu&lt;br /&gt;b. obat-obatan atau vitamin ( A)&lt;br /&gt;R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare&lt;br /&gt;Tujuan        :  Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh&lt;br /&gt;Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)&lt;br /&gt;   Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam&lt;br /&gt;R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)&lt;br /&gt;2) Berikan kompres hangat &lt;br /&gt;R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh&lt;br /&gt;3) Kolaborasi pemberian antipirektik&lt;br /&gt;R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 4 :Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)&lt;br /&gt;Tujuan      : setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga&lt;br /&gt;-    Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1) Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur&lt;br /&gt;R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman&lt;br /&gt;2) Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)&lt;br /&gt;R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces&lt;br /&gt;3) Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam&lt;br /&gt;R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive &lt;br /&gt;Tujuan      : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi &lt;br /&gt;Kriteria hasil :  Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel&lt;br /&gt; Intervensi : &lt;br /&gt;1) Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan&lt;br /&gt;R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga&lt;br /&gt;2) Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS&lt;br /&gt;R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS&lt;br /&gt;3) Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan&lt;br /&gt;R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya&lt;br /&gt;4) Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)&lt;br /&gt;R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.&lt;br /&gt;5) Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik &amp; Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta&lt;br /&gt;Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.&lt;br /&gt;Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.&lt;br /&gt;Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta&lt;br /&gt;Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta&lt;br /&gt;Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta&lt;br /&gt;Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-1715459082469841477?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/1715459082469841477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=1715459082469841477' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/1715459082469841477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/1715459082469841477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2009/02/diare-anak.html' title='diare anak'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-8059276434319357541</id><published>2008-12-06T02:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T02:17:20.334-08:00</updated><title type='text'>Pemberian NGT terhadap pasien Stroke Hemoragik</title><content type='html'>Definisi &lt;br /&gt;Kerusakan pada intra serebral cranial akibat perdarahan serta hipertensi primer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan karakteristik&lt;br /&gt;Mayor&lt;br /&gt;-Perdarahan ganglien Basal&lt;br /&gt;-Tungkai melemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minor&lt;br /&gt;-Pasien mengantuk,stupor&lt;br /&gt;-Kompresi batang otak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patofisiologis&lt;br /&gt;-Edema berhubungan dengan perdarahan intermitter irregular Babenski&lt;br /&gt;-Disfagia berhubungan dengan ketidaksadaran&lt;br /&gt;-Gangguan Nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan ketidaksadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Individu akan :&lt;br /&gt;1. Mempertahankan nutrisi normal&lt;br /&gt;2. Tidak ada kembung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Pertahankan jalan nafas&lt;br /&gt;2. Pemberian nutrisi &lt;br /&gt;3. Tentukan jenis makanan&lt;br /&gt;4. Jika klien sadar, NGT diberikan dengan sikap semi-fowler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Alat&lt;br /&gt;1. Stetoskop&lt;br /&gt;2. Spuit&lt;br /&gt;3. jelli&lt;br /&gt;4. Arteri klem&lt;br /&gt;5. Pinset anatomi&lt;br /&gt;6. Selang/tube NG-Leavin 12-18 F&lt;br /&gt;7. Handskun steril&lt;br /&gt;8. Klom&lt;br /&gt;9. Nierbekken/bengkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur Kerja&lt;br /&gt;1. Cuci tangan sebagai preventif primer &lt;br /&gt;2. Alat-alat disiapkan dan komunikasi tindakan kerja kepada klien dilakukan (tak terkecuali terhadap klien yang koma)&lt;br /&gt;3. Bengkok/nierbekken diletakkan di bawah dada&lt;br /&gt;4. Pakai Handskun&lt;br /&gt;5. Slang diukur dari nasal, ke arah telinga hingga menjulur ke lokasi lambung&lt;br /&gt;6. Selang diklem dengan arteri klem&lt;br /&gt;7. Klien dianjurkan menjulurkan lidah sepanjang mungkin(jika klien sadar) agar ujung pipa sampai pada pangkal lidah. Lalu, klien disuruh menelan serta menarik nafas panjang&lt;br /&gt;8. Tube Naso-Gastrial yang sebelumnya sudah diolesi dengan jelli, dimasukkan seca ra perlahan sampai batas ukuran yang telah diukur sebelumnya&lt;br /&gt;9.   Klien dirapihkan dan alat-alat dibersihkan&lt;br /&gt;10. Pemberian tindakan lanjutan sudah dapat diberikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ada 3 teknis untuk mengetahui NGT telah terpasang sempurna;&lt;br /&gt;1. Adanya gelembung air yang keluar dari pangkal tube menandakan NGT masuk &lt;br /&gt; paru-paru&lt;br /&gt;2. Pemberian spuit dengan stetoskop sebagai alat auskultasi untuk mendengar &lt;br /&gt;     gerakan tube terpasang sempurna di lambung&lt;br /&gt;3.  Penarikan cairan lambung dengan spuit yang disambung dengan tube. Jika cairan&lt;br /&gt;    lambung ada, berarti NGT telah terpasang sempurna.&lt;br /&gt;• Lama pemberian makanan jalur NGT lebih kurang 5-10 menit&lt;br /&gt;• Jika kurang atau lebih, maka akan menimbulkan kembung&lt;br /&gt;• Untuk pasien alergi plastik, NGT dapat diberikan dengan model non-Alergik&lt;br /&gt;• Jarak pengecekan dengan spuit dari perut tidak lebih dari 30 cm.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-8059276434319357541?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/8059276434319357541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=8059276434319357541' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8059276434319357541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8059276434319357541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/12/pemberian-ngt-terhadap-pasien-stroke.html' title='Pemberian NGT terhadap pasien Stroke Hemoragik'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-3120025377947116856</id><published>2008-12-06T02:15:00.001-08:00</published><updated>2008-12-06T02:15:48.673-08:00</updated><title type='text'>politik dan keperawatan</title><content type='html'>Assalamu’alaikum..&lt;br /&gt;Bacalah..&lt;br /&gt;Artikel dibawah ini ditujukan pada anda secara cuma-cuma, selaku mahasiswa keperawa tan di tanah air, para peminat keperawatan, pejabat berwenang dalam menangani permasa lahan keperawatan, hingga doktoral keperawatan yang intens dalam membahas isu kepera watan kontemporer secara universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Politik terhadap Eksistensi Keperawatan &lt;br /&gt;Secara garis besar, hubungan antara keperawatan dengan dunia politik sangat ber jauhan. Kita tentu maklum, bahwa dalam bidang kesehatan seorang petugas kesehatan tidak boleh terikat dalam politik. Ia harus menjunjung tinggi lafal sumpah seorang kader kesehatan selepas menyelesaikan pendidikan kesehatan yang dijalaninya. Yang diharus kan adalah hanya menolong setiap umat manusia tanpa memandang status ras, agama hingga politik.&lt;br /&gt;Namun, hal itu berbanding terbalik dengan yang terjadi di Amrik. Tahun 1974, ANA (American Nursing Association)-organisasi keperawatan Amerika membentuk the Nurses Coa lition in Politics(N-CAP) dan seterusnya dikenal seba gai ANA-PAC. Organisasi ini dikenal aktif menggelar aksi politik utama bagi kandidat yang ingin masuk kantor federal, guna mencari dukungan.&lt;br /&gt;Politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau meyakinkan seseorang unt uk memihak pada pemerintah untuk memperlihatkan bahwa kekuatan dari pihak tersebut membentuk hasil yang diinginkan(Rogge,1987). Dulu di Amrik, untuk berpolitik bagi kader keperawatan sangat tidak mungkin, mengingat para perawat lebih di dominasi oleh wanita daripada pria, apalagi politik banyak didominasi pria. Awalnya menjadi dilema tersendiri bagi eksistensi keperawatan disana. Tetapi kini peta perjuangan telah berubah.&lt;br /&gt;Keperawatan membutuhkan perjuangan politik dalam menghadapi dinamika kese hatan yang semakin kompleks dan hal ini juga mempengaruhi pola perkembangan  masya rakat disertai iklim globalisasi yang kian pesat. Maka kader keperawatan juga dituntut untuk mencari dukungan dari birokrasi untuk menyukseskan tujuan dari profesi kepera watan melalui jalur pemerintahan.&lt;br /&gt;ANA mempekerjakan seorang perawat terdaftar dalam melakukan lobi setingkat federal, dan organisasi keperawatan negara bagian juga mempekerjakan seseorang untuk melobi dan spesialis legislasi untuk isu keperawatan di negara bagian dan membantu upa ya federal. Ahli melobi yang bekerja atas nama perawat tersebut akhirnya dipekerjakan di Washington DC oleh kelompok minat profesional keperawatan, seperti ANA,NLN, AP HA AACN,AFoT,ACoN-M. Kelompok ini bertujuan untuk menghilangkan kendala finan sial dari perawatan kesehatan, meningkatkan asuhan keperawatan yang tersedia, mening katkan penghargaan ekonomi untuk perawatan dan memperluas peran perawat profesio nal (Aiken,1982)&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimana kiprah organisasi keperawatan di Indonesia? Sudahkah mendekati dengan yang ada di Amrik? Mengapa tidak segera memulai perubahan itu de ngan langkah yang telah ditempuh oleh ANA, organisasi rujukan dunia keperawatan dal am menentukan kebijakan keperawatan global? &lt;br /&gt;Sudah saatnya dinamika pergerakan keperawatan di Indonesia tidak tabu dengan kekuatan politik, yang terbukti ampuh dalam memajukan keperawatan itu sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Amrik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-3120025377947116856?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/3120025377947116856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=3120025377947116856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/3120025377947116856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/3120025377947116856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/12/politik-dan-keperawatan.html' title='politik dan keperawatan'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-5882181289547961981</id><published>2008-12-06T02:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T02:14:39.814-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>PROFIL PERAWAT MASA KINI; BAK MEMAKAN BUAH SIMALAKAMA&lt;br /&gt;Perawat kontemporer menuntut perawat yang memiliki pengetahuan dan ketram pilan dalam berbagai bidang. Dulu peran perawat inti adalah memberikan perawatan dan kenyamanan karena mereka menjalankan perawatan spesifik, tapi seka rang hal ini telah berubah. Peran perawat sudah menjadi lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Pera wat masa kini menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi kepe rawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, pembuat kenyamanan, komunikator dan pendidik.(Potter-Perry).&lt;br /&gt;Statemen diatas sudah sebaiknya menjadi iktibar bagi kita-kader keperawatan tan ah air- untuk memahami tujuan kerja kita yang tidak sebatas melakukan technical saja tapi sudah menyentuh berbagai bidang. &lt;br /&gt;Bak jauh panggang dengan api, di lapangan kita bisa melihat kondisi keseharian kerja perawat. Banyak ditemu kan laporan bahwa pe rawat dikenal sebagai sosok yang menakutkan, tidak tahu sopan-santun dalam menangani pasien dan berbagai ungkapan miring lainnya. Perawat yang notabene telah bekerja lebih banyak dari dokter karena 24 jam selalu bertemu dengan pa sien, juga harus menghadapi berbagai kepedihan seperti laporan tindakan pemukulan oleh keluarga pasien yang tidak puas dengan asuhan keperawatan yang diberikan, lalu gaji yang diberi kan juga dibawah standar. Ibarat memakan buah simalakama, perawat men jadi serba-salah dalam melakukan tindakan apapun. &lt;br /&gt;Padahal, keperawatan sudah dianggap sebagai satu profesi, bukan lagi sejumlah ketrampilan khusus dan seorang perawat bukan hanya seorang yang dilatih dengan keah lian tertentu. Keperawatan adalah sebuah profesi. Profesi memiliki beberapa karakteristik utama seperti:&lt;br /&gt;1 Adanya pendidikan lanjutan dari anggotanya, demikian pula landasan dasarnya&lt;br /&gt;2 Mempunyai kerangka pengetahuan teoretis yang mengarah pada skill, kemampu an dan norma tertentu.&lt;br /&gt;3. Memberikan pelayanan tertentu&lt;br /&gt;4. Anggota suatu profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan dan mela kukan tindakan&lt;br /&gt;5. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik kepera watan.&lt;br /&gt;Sudah jelas, keperawatan memiliki semua hal tersebut diatas. Akan tetapi, ki ni kita dihadapkan bahwa keperawatan hanya sebatas profesi, belum menyentuh aspek yang demikian lengkap seperti organisasi keperawatan di berbagai negara lainnya. Padahal, u sia keperawatan di Indonesia sudah sama tuanya dengan usia republik ini, wa lau dulu di kenal sebagai paramedis yang bertugas merawat korban perang disamping keberadaan dokter yang lebih dulu mujur dengan didirikannya STOVIA sebagai sekolah kedokteran pertama di Indonesia dengan CBZ (RS.CIPTO MANGUNKUSUMO saat ini-red) seba gai RS akademika-nya. Tapi bukan berarti dengan hal seperti itu membuat kita beralasan bahwa keperawatan di tanah air terus berada dalam ketertinggalan dan mematuhi sifat pe simisme. Sudah saatnya kita melakukan perubahan dan reformasi misi hingga visi 2010 menjadi kenyataan bagi kita selaku kader keperawatan Indonesia.&lt;br /&gt;Chritical Thinking from Mosleem Student of Nursing---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-5882181289547961981?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/5882181289547961981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=5882181289547961981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/5882181289547961981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/5882181289547961981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/12/profil-perawat-masa-kini-bak-memakan.html' title=''/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-8814856581302757720</id><published>2008-11-29T23:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T23:06:25.828-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-136 0 -136 21398 21600 21398 21600 0 -136 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Wahidi\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="IMGP1821"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Wahidi/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="107" hspace="12" width="159" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="IN"&gt;Kopi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;adalah tanaman yang umumnya tumbuh di dataran tinggi. Bu ahnya bulat sebesar kelereng, dan diolah menjadi minuman ya ng biasanya dihidangkan di pagi hari. Disaat membaca koran, saat turun hujan, saat menghadiri pertemuan penting, sangat hambar rasanya jika tidak dihidangkan kopi atau bagi mahasis wa yang sudah nawaitu untuk begadang malam guna menghadapi ujian final di kampus nya, kopi bak sahabat sejati yang setia menemani di segala kondisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalau tuan dan nyonya berkunjung ke kampung saya yakni Aceh, tak sulit mene mukan lokasi strategis untuk mencicipi harumnya kopi khas daerah paling barat Indone sia ini. Disini sangat banyak dibangun warung-warung kopi. Di dekat lampu lalu lintas, di samping perkantoran, atau tempat-tempat bisnis, banyak didirikan warung kopi sebagai khas daerah kami selain masjid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di Aceh sendiri juga terletak gudang kopi terbesar, yaitu perkebunan kopi di Da taran tinggi Gayo sebagai basis eksportir kopi terbesar baik lingkup domestic maupun mancanegara. Sayangnya, kelebihan ini kurang dipandang baik oleh orang-orang yang pu nya wewenang dalam memperkenalkan kopi Gayo sebagai kopi terbaik yang khusus di miliki Aceh dan Indonesia pada umumnya. Lihat saja, perusahaan di Belanda dengan pe-denya berfatwa; Kopi Gayo milik kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sifat kita,ya itu tadi. Baru kapok jika sudah melihat masalah. Jadinya, cepat-cepat mengurus hak kepemilikan hingga ke internasional. Petani disini tidak lebih makan ikan, cabe hijau dan garam. Hasil kerja yang ia dapat, tak sebanding dengan kerja yang ia laku kan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jadi, kalau tuan dan nyonya berkunjung ke Aceh, jangan lupa juga berkunjung ke daerah tengah propinsi Aceh, yaitu dataran tinggi Gayo yang kini menjadi dua kabupaten, yakni Bener Meriah dan Aceh Tengah. Selain tuan dan nyonya mendapati dinginnya uda ra bak di kota Bogor, tuan dan nyonya juga akan mendapati kondisi riil petani kopi Gayo yang secara kasat mata memprihatinkan, akan tetapi jika memandang pendidikan, mereka tidak main-main. Buktinya, walau kondisi ekonomi dibawah rata-rata, tetapi mereka mam pu untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga universitas baik di Aceh hingga keluar negeri walau dengan estimasi dana yang tertatih-tatih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hehe..obrolan kita kok ngelantur? Tapi apa boleh buat. Itulah kita. Dan saya ha nya mengingatkan tuan dan nyonya, dibalik kenikmatan meminum kopi, tersimpan juta an keringat petani kopi yang hingga hari ini tak bisa dibayar dengan apapun juga. Wassalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-8814856581302757720?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/8814856581302757720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=8814856581302757720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8814856581302757720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8814856581302757720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/11/kopi-adalah-tanaman-yang-umumnya-tumbuh.html' title=''/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-8099899143050565803</id><published>2008-11-28T19:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T20:14:58.914-08:00</updated><title type='text'>mahasiswa plus-plus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/STC7wDGDwvI/AAAAAAAAAAU/bUUyeRE9aJk/s1600-h/nbaHomeNbaGlobalPlayer.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 111px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/STC7wDGDwvI/AAAAAAAAAAU/bUUyeRE9aJk/s200/nbaHomeNbaGlobalPlayer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273921597789684466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bismillah..&lt;br /&gt;aku harus mengangkat pena lagi setelah 3 bulan berada dalam&lt;br /&gt;kekosongan inspirasi dan rasa letih yang dibebankan oleh mereka, para dosen-dosenku-yang baik-dengan tugas-tugas yang dahsyat; injeksi, pemasangan NGT, penetapan diagnosa dan berbagai tugas klinis (teman bilang klinis=klenik). jujur, hal itu menyebabkan aku harus membaktikan diriku sebentar dengan kesibukan akademik-ku dan dalam waktu yang sempit itu, aku mencuri-curi waktu dengan hobiku ini;menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             Segudang kegiatan masih harus kujalani. Sebagai mahasiswa tentu aku tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa. aku ingin menjadi mahasiswa yang lebih. kawan-kawan organisasi ekstra kampusku bilang; mahasiswa plus-plus. Four thumbs up!(ditambah dengan 2 jempol kaki,hehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             Dengan keringat yang  deras mengucur bak pemain bintang basket yang berada di detik-detik terakhir play games of basketball, aku harus menyelesaikan segala tugas yang telah ditugaskan. tidak hanya dikampus yang diinstruksikan oleh d0sen, melainkan juga PR sosial yang hingga hari ini masih banyak ditemukan di sekitar masyarakatku dan sebagai 0rang yag berjiwa muda, aku dan teman-teman disini sama-sama memikirkan, menganalisa dan memecahkan berbagai persoalan di tengah masyarakat. dan itulah yang disebut sebagai mahasiswa plus-plus. tidak hanya berada di pustaka atau laboratorium, genjreng sana-sini tetapi juga berarti dan tidak mati sekaligus. dan itulah yang dikatakan kakak-kakakku di berbagai organisasi mahasiswa yang kutemui. melawan kata-kata Chairil Anwar;sekali berarti sudah itu mati....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-8099899143050565803?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/8099899143050565803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=8099899143050565803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8099899143050565803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/8099899143050565803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/11/mahasiswa-plus-plus.html' title='mahasiswa plus-plus'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/STC7wDGDwvI/AAAAAAAAAAU/bUUyeRE9aJk/s72-c/nbaHomeNbaGlobalPlayer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2554554123934294778.post-4180720575392056480</id><published>2008-10-29T21:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-29T22:02:57.337-07:00</updated><title type='text'>disini aku merangkai kata</title><content type='html'>Assalamu'alaikum&lt;br /&gt;Salam dari Aceh!&lt;br /&gt;gimana kabar teman-teman semua? moga makin baik aja&lt;br /&gt;Oya, ni baru bikin blog,hehe..disini aku merangkai kata&lt;br /&gt;Dengar kabar kalo ILMIKI bakal menggelar LKMM di UNAIR(thanks untuk Bang Andi Baso Tombong atas info-a)&lt;br /&gt;tanggal 19-23 November 2008 di BPPlS Surabaya&lt;br /&gt;masalahnya aku harus nyedian budget untuk trip perjalanan Aceh-Jakarta-Surabaya yang dipikirkan saja sudah repot ..\&lt;br /&gt;Tapi yang namanya solidaritas mahasiswa keperawatan se-nasional, aku harus pergi kesana!&lt;br /&gt;masalah sekarang itu dia..akademik yang njelimet ngurus sana-sini&lt;br /&gt;di kampus juga ada kegiatan sambutan ke maba dan aku bagian dari panitianya(selain jadi kabid HUAL di SM,capee deh..)&lt;br /&gt;Untuk temen-temenku disana, jangan lupa kirim doa buatku biar ktia bisa bertemu dan akan ku kabarkan pada kalian kondisi ranah keperawatan Aceh di sini..&lt;br /&gt;by Andibloggersejati,aktivis_88,Andi Aceh(siapa lagi kalo bukan Andi tharsia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2554554123934294778-4180720575392056480?l=andibloggersejati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/feeds/4180720575392056480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2554554123934294778&amp;postID=4180720575392056480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/4180720575392056480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2554554123934294778/posts/default/4180720575392056480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andibloggersejati.blogspot.com/2008/10/disini-aku-merangkai-kata.html' title='disini aku merangkai kata'/><author><name>andibloggersejati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q9SQ66UwTuI/SYaKApto16I/AAAAAAAAABA/4VZscCDS-Do/S220/IMG3848A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
